Memaknai Hari Kesaktian Pancasila: Dari Seremoni Menjadi Kebiasaan
SMK Negeri 1 Nunukan, 01 Oktober 2026
Setiap 1 Oktober, bendera dikibarkan, upacara digelar, dan media sosial dipenuhi ucapan selamat. Setelah itu kita kembali ke rutinitas. Pertanyaannya, apa yang tersisa di kepala dan sikap kita setelah peringatan itu selesai?
Hari Kesaktian Pancasila ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967 dan berkaitan dengan rangkaian peristiwa pada akhir September hingga awal Oktober 1965. Peringatan ini mengajak bangsa mengenang sejarah dan meneguhkan kembali Pancasila sebagai dasar negara. Tahun 2026, Kementerian Kebudayaan mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Pemerintah juga menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi momentum untuk memaknai ulang nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Membaca Sejarah dengan Kritis
Literasi dimulai dari kebiasaan bertanya. Sejarah 1965 adalah peristiwa kompleks yang ditulis dan ditafsirkan dari berbagai sumber. Sebagai pelajar, kita dilatih untuk tidak puas dengan satu potongan cerita. Baca buku pelajaran, telusuri sumber yang kredibel, bandingkan, lalu tarik kesimpulan dengan kepala dingin. Menghormati para korban dan memahami sejarah secara utuh tidak saling bertentangan. Keduanya justru saling menguatkan.
Pancasila dalam Dunia Digital
Pelajar hari ini hidup di ruang yang riuh oleh informasi. Di sanalah Pancasila diuji:
-
Ketuhanan Yang Maha Esa
Menghormati keyakinan orang lain, termasuk dalam kolom komentar.
-
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Tidak merundung dan tidak menyebarkan aib orang lain.
-
Persatuan Indonesia
Tidak ikut menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian yang memecah belah.
-
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Berdiskusi dengan santun dan menerima perbedaan pendapat.
-
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Peduli pada sesama dan tidak menyalahgunakan teknologi untuk merugikan orang lain.
Sebelum membagikan sebuah informasi, biasakan tiga pertanyaan sederhana:
- Siapa sumbernya?
- Apakah ada pembanding?
- Apa dampaknya jika disebarkan?
Kebiasaan kecil ini adalah bentuk nyata persatuan di era digital.
Dari Kelas ke Kehidupan
Peserta didik SMK Negeri 1 Nunukan mengikuti upacara.
Bagi siswa SMK, nilai Pancasila terasa paling nyata di lingkungan belajar dan kerja. Kejujuran saat mengerjakan tugas, kerja sama dalam proyek kelompok, disiplin, tanggung jawab pada hasil karya, dan menghargai teman dari latar belakang berbeda sudah merupakan pengamalan Pancasila. Dunia kerja membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga karakter yang mampu bekerja sama dan dipercaya.
Penutup
Pancasila terasa “sakti” ketika nilainya hidup dalam tindakan, bukan hanya diucapkan dalam upacara. Mari jadikan peringatan tahun ini sebagai awal kebiasaan baru: membaca dengan kritis, berbicara dengan santun, dan bertindak dengan peduli. Sebab persatuan yang kuat tidak lahir dari satu hari peringatan, tetapi dari pilihan kecil yang kita buat setiap hari.